Latar belakang penciptaan "Sebak" menyimpan cerita mendalam tentang salah satu tragedi transportasi di bulan April 2026 lalu. "Tema dan lirik lagu ini ditulis untuk merespons kesedihan kami terhadap kecelakaan kereta api di bulan April lalu, serta kekecewaan kami terhadap beberapa respons yang terkesan nirempati atas peristiwa tersebut," ujar Radit, vokalis sekaligus songwriter di lagu ini.
Liriknya sendiri menggambarkan raw feelings dari sesaknya luka, penyangkalan, dan kemarahan, yang merupakan tahap awal dari 5 stages of grief. "Nggak ada yang bisa menggambarkan betapa sedihnya perasaanku terhadap tragedi tersebut. Semua lirik yang kutulis merupakan gambaran kekalutanku saat itu," tambah Bimo, drummer sekaligus penulis lirik Sebak.
Menariknya, proses produksi lagu ini termasuk cepat dan seamless. Hanya dalam waktu satu bulan, demo yang awalnya berupa drum pattern bisa menjadi lagu yang utuh. "Uniknya di situ sih, jadi biasanya nulis lagu dimulai dari notasi atau lirik duluan. Tapi untuk Sebak ini malah drum-pattern yang muncul duluan. Selebihnya, tinggal dilanjutkan dengan saling melempar file progress ke masing-masing personil aja," kata Nando dan Adria.
Proses rekaman dikerjakan di beberapa tempat, yaitu 912 Studio oleh Adria Riswinanda, Arbuls Mini Lab oleh Ananda Maulana, serta Radit's Home Studio oleh Raditya Mahendra. Sementara mixing & mastering dikerjakan oleh Tutoet Daru Prabowo. The People of The Sun berharap lagu ini bisa hadir dan menemani setiap momen sedih yang dialami pendengar. "Regulasi emosi tiap orang pasti berbeda-beda, tapi kami berharap lagu ini bisa berkontribusi dalam proses healing para pendengar," tutup Harist Santoso, gitaris The People Of The Sun.


Posting Komentar